Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Berubah dan Berbuah (Luk. 6: 43-49)

Dalam bacaan hari ini dalam Liturgi kita, Gereja Katolik yang Kudus, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya supaya kita dikatakan berbuah yang baik dan beriman yang teguh. Sebatang pohon, entah pohon apapun yang sifatnya menghasilkan buah supaya menghasilkan buah yang baik, perlu perawatan yang baik pula. Siapa yang merawatnya, tentu pemilik pohon tersebut. Semua kita tahu bagaimana cara merawat pohon dengan baik. Sebab, tidak mungkin kita menanam pohon apabila kita tidak tahu bagaimana merawatnya. misalnya saja, kita memberi pupuk, membersihkannya dan sebagainya. Sebaliknya,  kita akan mengetahui apa hasilnya apabila kita sendiri sama sekali tidak pernah merawatnya.
Demikianlah juga dengan manusia. Kita sebagai manusia perlu juga “perawatan.” Perawatan yang dimaksud  di sini adalah pembiasaan. Pembiasaan dalam hal apa, tentu pembiasaan dalam hal kebaikan. Kebaikan yang bagaimana? Inilah petanyaan yang perlu kita ingat dengan baik dan benar dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Kita sebagai orang Kristen harus dan mutlak hukumnya untuk selalu bercermin pada ajaran Yesus Kristus. Sebab, Kristuslah yang menjadi poros atau pusat kita dalam mengarungi peziarahan hidup ini. Dalam karya-Nya, Yesus telah menunjukkan bagaimana Ia mewartakan kebaikan kepada orang-orang kecil yang miskin dan menderita.
Mungkin bisa saja kita sering mendengarkan sabda-Nya, tetapi apakah kita sudah jelas tahu bagaimana persisnya kebaikan yang diajarkan-Nya? Dalam bacaan pertama hari ini, dengan terus terang Rasul Paulus mengatakan kepada Timoteus yang dipanggil Yesus untuk pewarta kebaikan itu. Rasul Paulus mengatakan bahwa ia adalah orang yang paling berdosa di antara orang-orang yang berdosa. Namun, Kristus justru menjadikan dia sebagai alatnya untuk menyebarkan kebaikan itu ke seluruh dunia. Di sini terdapat hal yang menarik perhatian kita. Mengapa harus Paulus yang dulunya adalah seorang pembunuh orang Kristen? Karena, ketika Yesus menyapa Paulus, Paulus langsung menjawab-Nya dengan berkata: “ apa yang ingin kulakukan untuk-Mu Tuhan?” Kalimat ini menunjukkan kesiapsediaan Paulus. Sehingga, ia pun menjadi Rasul Yesus untuk mewartakan karya keselamatan yang telah dibuat Yesus.


Setiap hari, kita disapa oleh Yesus. Dia menyapa kita lewat sabda-Nya, lewat sesama kita, lewat pengalaman kita dan lewat hal-hal lain yang hadir dalam hidup kita. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita pernah menyadarinya? Dan pernahkah kita menyapa Yesus dalam setiap pengalaman hidup kita? Mungkin kita sering menyapa Yesus. Tetapi di saat kapankah kita langsung mengingaat Yesus itu adalah Tuhan kita? Tampaknya, kita sering menyapa Yesus ketika mengalami banyak masalah dan persoalan. Di saa-saat seperti inilah kita memanggil-Nya dengan “Tuhan!, Tuhan!”. Tetapi, sebelum mengalami masalah dan persoalan kita jarang mengingat Yesus yang baik itu. Kita datang kepada-Nya dengan keluh kesah kita. Namun, sama sekali kita jarang melakukan apa yang diajarkan-Nya. Akhirnya, ketika kita sedikit mengalami masalah dan persoalan, iman kita langsung keok dan langsung menghakimi Tuhan sendiri. Karena kita sudah membangun iman kita atas dasar kemanusiaan kita sendiri.
Marilah umat berimat sekalian, kita mendengarkan sabda Tuhan lewat Kitab Suci dan lewat pengalaman hidup kita sehari-hari. Dan setelah mendengarkannya, kita melakukannya dalam kehidupan kita bersama. Marilah kita membiasakan diri dan membiarkan diri kita dirawat oleh Tuhan kita dengan cara-Nya yang penuh misteri. Sehingga pada akhirnya kita menghasilkan buah yang baik, tetap kokoh dan tak tergoyahkan oleh cobaan apapun. Sebab, kita sudah dirawat oleh Tuhan dan membangun hidup kita atas dasar batu iman yang keras. Tentu, kehidupan kekal juga akan milik kita. (Fr. Matias Simanullang OFM Cap)

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting