Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Belas Kasih Kepada Sesama (Mat 9: 9-13)

Hari ini Tuhan menyapa umat Kristiani lewat bacaan Kitab Suci dan Injil. Dalam bacaan yang dikutip dari Surat  Paulus kepada Jemaat di Efesus, disebutkan tentang  ketabahan, kerendahan  hati, kasih, lemah lembut dan memelihara kesatuan. Melalui Paulus,Tuhan menyampaikan kepada kita  agar selalu rendah hati, lemah lembut, sabar, dan menunjukkan kasih dalam hal saling membantu. Dan dikatakan  juga agar umat Kristiani berusaha memelihara kesatuan  Roh oleh ikatan damai. Dua ayat ini (2- 3)  menarik untuk direnungkan dan direfleksikan dalam sikap dan sifat yang dilakukan selama ini.
Dalam kehidupan sehari-hari,mungkin seseorang jarang mengamalkan nilai- nilai yang disampaikan oleh Tuhan. Kecenderungan manusia adalah mudah putus asa ketika menghadapi persoalan, cepat emosi ketika berhadapan dengan situasi yang kurang baik dan selalu mencari kemudahan atau dengan kata lain mau yang instant saja dalam melakukan suatu kegiatan.

Dalam ayat 2b juga berbicara tentang kasih dalam hal saling membantu. Bagaimana sikap  ketika memberikan bantuan itu? Yaitu,  apakah  selama ini punya niat yang tulus untuk saling membantu khususnya bagi orang yang benar- benar mengharapkan pertolongan? Atau hanya sikap berpura- pura saja supaya dicap baik oleh orang lain ataukah mungkin memberi bantuan hanya untuk mendapat balasan yang lebih, dari orang yang kita beri bantuan itu?
Pertanyaan-pertanyaan diatas mengajak untuk merefleksikan mengenai sikap dan sifat dalam hal bantu membantu. Membantu seseorang apabila tidak didasari oleh rasa kasih semua itu bisa dikatakan ” hanyalah tipuan belaka dengan kata lain bertopeng”. Maka berilah bantuan dengan hati yang tulus ikhlas karena Tuhan akan membalas setimpal.
Dalam Injil hari ini yang dikutip dari Matius juga  dibicarakan tentang belas kasih kepada sesama.
Dalam Injil ini Yesus menentang sikap orang Farisi yang menganggap bahwa orang berdosa itu harus dijauhi dalam pergaulan. Yesus berkata kepada orang Farisi bahwa “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”. Memang  benar apa yang dikatakan Yesus bahwa hanya orang sakit yang memerlukan tabib, bukan orang sehat.  Mengapa? Karena orang sakit memerlukan bantuan agar sakitnya bisa segera disembuhkan. Tetapi apabila orang sehat yang membutuhkan tabib itu bisa dikatakan orang yang mau mencari perhatian atau ingin dimanjakan.
Orang sakit yang dikatakan Yesus adalah orang berdosa. Orang sakit yang membutuhkan tabib adalah orang berdosa yang membutuhkan pengampunan atas dosa- dosanya.Yesus begitu sayang kepada orang yang dianggap tidak baik dimata orang Farisi. Yesus merangkul dan bergaul dengan orang yang disingkirkan dari lingkungan hidup masyarakat dan mencintai mereka. Karena Yesus datang kedunia ini bukan untuk orang  yang benar tetapi orang yang berdosa.
Dalam kehidupan sehari- hari mungkin juga seseorang memiliki sikap yang mirip dengan orang  Farisi. Orang Farisi merasa heran ketika melihat Yesus duduk makan dengan pemungut cukai. Mereka beranggapan bahwa pemungut cukai itu adalah pendosa yang pantas dijauhi. Mereka berpikir bahwa bergaul dengan orang berdosa itu menajiskan. Tetapi tidak  bagi Yesus. Di mata Yesus mereka adalah sahabat yang enak untuk ditemani. Karena Yesus tahu orang berdosalah mudah untuk menerima kehadiran Allah didunia melalui pribadi Yesus. Kalau orang Farisi hanya mencari kesalahan saja.
Sikap ini mungkin ada dalam setiap pribadi manusia. Seseorang yang menganggap diri lebih baik dari orang lain, akan  memandang rendah sesamanya. Apalagi ketahuan bahwa seseorang  memiliki masalah mengenai pribadinya ataupun keluarganya. Sudah pasti tidak akan bergaul dengannya dan akan dijauhi bahkan dicemoohkan. Sedih rasanya apabila seseorang pernah mengalami hal seperti ini, dijauhi, diejek, dicemoohkan dan digosipi. Rasanya hidup ini tidak berarti lagi dan kadang merasa minder. Sadar atau tidak sadar dalam kehidupan sehari- hari seseorang pernah berbuat  dan mengalami demikian.
Perlu disadari bahwa teladan Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengajak Umat Kristiani untuk bersikap adil terhadap sesama dan menghormati derajat hidup orang lain. Yesus yang dalam Injil hari ini menasihati bahwa, dalam pergaulan harus bisa merangkul sesama entah dia orang baik atau jahat,kaya atau miskin. Jangan ada perbedaan diantara sesama. Tetapi belajarlah untuk mencintai dan bersikap belas kasih terhadap sesama. Jangan memandang orang lain hanya karena sikap atau perbuatannya yang kurang baik. Tapi pandanglah dia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Karena bagi Tuhan semua manusia adalah satu.satu sebagai anak-Nya, satu dihadapan-Nya.  Maka, marilah kita saling mencintai sesama sebagaimana Allah kehendaki supaya terciptalah keharmonisan antar sesama. (Fr. Romualdus Manur OFM Cap)

Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting