Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Anak Manusia adalah Tuhan atas Hari Sabat Injil (Lukas 6:1-5)

Beberapa orang Farisi berkata “mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari sabat”. Perdebatan mengenai sabat sering kali terjadi dalam pelayanan Yesus. Perdebatan mengenai sabat ini beberapa kali diceritakan dalam Injil. Bagi orang Farisi, sabat adalah hari untuk berhenti dari segala kegiatan/pekerjaan. Hal ini mereka lakukan sebagai satu ungkapan rasa kesetiaan terhadap hukum Musa.  Aturan mengenai hari sabat ini senantiasa mereka  perbuat dan wariskan  secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Tetapi karena memiliki pemahaman yang kurang, sering membuat orang-orang Farisi terjebak dalam suatu kemunafikan, terbuai pada suatu tindakan penegakan aturan semata. Mereka tidak melihat  apa sebenarnya hakikat dari sebuah aturan/hukum itu. Sesungguhnya hukum/aturan itu dibuat dengan maksud agar hidup menjadi lebih baik. Aturan bukan untuk menyakiti dan menyengsarakan.
Dalam Inji hari ini,  memang tidak diceritakan apa yang menjadi alasan para murid memetik gandum lalu memakannya. Namun bisa saja tindakan itu diartikan karena para murid sedang lapar, seperti halnya  yang diceritakan dalam kitab Markus. Orang Farisi mempertanyakan hal ini, tetapi Yesus menjawab dengan kuasa-Nya sebagai guru dan  pelindung atas para muruid. Yesus membandingkan tindakan para murid dengan tindakan yang pernah diperbuat oleh Daud. Melalui jawaban dan perbandingan ini  Yesus hendak menunjukkan bahwa keselamatan hidup berada di atas segalanya, bahkan diatas hukum sabat. Aturan dalam bentuk apapun akan runtuh apabila menyangkut hidup, karena nilai hidup itu mengalahkan segalanya.
Dalam hidup sehari-hari, kita banyak menemui peraturan, dan undang-undang. Tentunya semua hal ini di buat demi sebuah tujuan yaitu supaya manusia bisa hidup baik , aman dan teratur. Tidak ada satupun tempat di dunia ini yang tidak memiliki hukum atau aturannya. Pada dasarnya hukum dibuat bukan untuk di langgar. Bacaan Injil hari  ini sesungguhnya bukan untuk mengajari kita supaya melanggar hukum. Di sini Yesus hendak mengatakan bahwa pentingnya kebijaksanaan dalam menjalani hukum. Hukum boleh saja dikesampingkan apabila kita sedang memperjuangkan nilai-nilai kehidupan. Perjuangan ini tentunya bukanlah kepentingan pribadi tetapi kepentingan yang menyangkut orang banyak. Perbuatan yang diajarkan oleh Yesus ini sangat perlu dan penting untuk ditanamknn dalam setiap hidup umat beriman. Sekali lagi ditandaskan bahwa hukum untuk manusia, bukan sebaliknya. Semoga sebagai orang beriman kristiani kita semakin berani berbuat baik bukan karena sebuah aturan belaka, tetapi karena memang berasal dari kedalaman hati kita yang sesungguhnya. (Fr. Anselmus Metmet Hutauruk OFM Cap)


Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting