Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Komunikasi Ala "Face to Face"

Budaya komunikasi yang baik dan benar.
          Komunikasi termasuk hal yang sangat penting dalam hidup kita. Bahasa merupakan sarana komunikasi utama. Komunikasi yang macet menjadikan suasana kacau. Kita melihat percakapan dua Batak. Seorang yang tuli melihat temannya membawa alat pancing. Ia menyapa, “Ai naeng mangkail do hamu? (yang mau memancingnya kamu)” Telinga orang yang disapa ternyata tidak beres. Ia menjawab, “Daong! Naeng mangkail do.” (tidak. Mau memancing) Si tuli lanjut berkata, “Bah, na hurippu do naeng mangkail hamu.” Ah, saya pikir kamu mau memancing) Dan orang itu menjawab lagi, “Daong, naeng mangkail do.” Demikian kira-kira dapat dilukiskan suasana ketika berkomunikasi dengan baik dan sehat. Baik dan menarik sebuah komunikasi tergantung sejauh mana pertemuan antara pribadi mengungkapkan sesuatu yang membuat yang lain dapat saling mengerti.



Sebelum ada kantor pos, telepon, internet, faks, telegram dan sarana komunikasi lain, berita penting disampaikan dengan menggunakan jasa seorang kurir. Seorang kurir biasanya mengendarai kuda atau kreta. Terkadang  kurir membutuhkan waktu berhari-hari lamanya untuk sampai ke tujuan. Sering ia menghadapi medan yang cukup berat. Di tengah jalan bisa jadi ia bertemu dengan perampok atau binatang buas. Pekerjaan seorang kurir tidak gampang. Karena itu seorang kurir dibayar mahal. Di samping itu, kurir juga mesti orang yang dapat dipercayai, supaya berita benar-benar sampai ke tujuan.   
Dewasa ini, situasi kehidupan menusia semakin cepat bergerak. Waktu dirasa semakin pendek dan dunia semakin sempit. Jarak ruang dan waktu terasa semakin pendek. Realitas ini membuat manusia khususnya kerakter Orang Muda diombang-ambingkan dengan media komunikasi yang ada. Muncul perasaan bingung dan dilema untuk menentukan ke mana hidup harus diarahkan karena di hadapan mereka di tawarkan banyak hal sehingga gencarnya media komunikasi tersebut, dialog face to face semakin berkurang. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah sesama yang dekat semakin dilupakan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa, seiring maraknya media online dalam kehidupan sehari-hari, rasanya semakin akrab dalam kehidupan masyarakat baik dari pelosok-pelosok dan bahkan sampai kota-kota besar. Jarak antara kutub yang satu ke kutub yang lain dapat terjangkau. Jejaring sosial seperti hanphone, internet, facebook, twitter, sudah menjadi komsumsi publik. Interaksi lewat facebook seolah mempunyai kemampuan untuk menggantikan kebutuhan pertemuan langsung
Fenomena ini ditanggapi dengan cara yang berbeda-beda. Di satu sisi, penggunaan media internet dan hanphone telah terbukti menjadi sarana yang efektif untuk menjangkau umat secara lebih luas dan cepat. Namun, di sisi lain sedikit diragukan apakah dengan adanya medium seperti itu akan menggeser nilai-nilai moral khususnnya remaja dan orang muda kita saat ini. Apakah pengunaaan media internet dan hanphone akan membantu komunikasi yang sehat demi membangun relasi yang baik? Atau sebaliknya?
Tampaknya kita harus tetap prihatin menatap realitas saat ini. Memang pada kenyataannya kemajuan dan perkembangan tersebut telah “menyatukan” dunia ini, tetapi di lain pihak memungkinkan “permusuhan/keterpisahan” antar hidup bermasyarakat bahkan relasi antar sesama manusia. Maka nilai-nilai yang perlu adalah kembali pada kesadaran pribadi sejauh mana media internet dan hanphone dapat digunakan demi komunikasi dan perkembangan pribadi? Kalau itu baik dan berguna, tentu menjadi kebutuhan dalam berkomunikasi, kalau salah menggunakan, konsekuensinya pun akan tidak baik. Kalau demikian kita berada dalam posisi yang mana? Kita semua pasti menggunakan internet dan hanphone. Maka bertanyalah, sudah sejauh mana keuntungan dan kekurangan menggunakan alat komunikasi itu? Di mana letak keuntugannya? Dan di mana letak keurangannya? Kita dapat meringkas sendiri dalam penggunaan itu. Sebagai manusia makhluk sosial, kita selalu membutuhkan orang lain. karena itu manusia selalu membutuhkan dialog, salah satunya komunikasi. Komunikasi itu dapat terjadi melalui lisan dan tulisan. Dalam posisi lisan, orang dapat berjumpa melalui face to face (bertatapan muka dengan muka) tulisan bisa terjadi dengan pesan melalui hanphone pun internet.
Mentalitas yang terjadi saat ini, adalah manusia cenderung berapa pada posisi tulisan di mana yang menjadi kebutuhan adalah penggunaan internet dan hanphone. Maka budaya komunikasi langsung seperti face to face menjadi hilang/berkurang, dan itu nampaknya tidak menjadi kreen untuk manusia zaman ini. Bila itu terjadi, akan muncul pandangan bahwa “manusia modern nampaknya ketinggalan zaman”. Namun sebagian orang yang berada pada posissi ketinggalam zaman, memberi repos bahwa yang ketinggalan itulah komunikasi yang sehat dan baik. Terasa bahwa pribadi yang bertemu melalui komunikasi ala face to face membawa keuntugan yang sehat, karena menyangkut eksistensi yang mendalam antara satu dengan yang lain. Tetapi nampaknya pendapat itu hanya segilintir orang saja. Biar pun itu terjadi, toh nuansa dan budaya media komunikasi seperti internet dan hanphone selalu menjadi kebutuhan yang selalu dibutuhkan oleh manusia zaman sekarang. Yang penting selalu kembali pada suatu kesadaran bahwa media komunikasi internet dan hanphone adalah sarana komunikasi antara sesama bukan membagi kita dalam pergaulan m mlainkan memperkuat pergaulan, dalam konteks yang positif.  Itulah yang diharapkan manusia zaman ini dalam mentalitas bahkan karakter berkomunikasi. Apabila manusia zaman ini merindukan komunikasi ala face to face, meskipun merasa diri ketinggalan zaman, apakah media komunikasi seperti facebook, hanphone masih menjadi kebutuhan nomor satu dalam komunikasi? Komunikasi yang baik selalu berorientasi pada hal-hal sehat. Itu yang diiginkan, bukan tergantung pada sejauh mana cangihnya media komunikasi yang digunakan. Bila itu baik, pastilah menjadi suatu kebutuhan yang layaknya digunakan. 

        
Share this post :

+ Komentar + 4 Komentar

1 Juli 2015 17.17

Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul " Komunikasi Ala "Face to Face" ".
Saya juga mempunyai E-book yang mungkin anda butuhkan dan sesuai dengan judul artikel yang anda buat. E-book Komunikasi

22 Juni 2016 09.19

Artikel ini sangat menarik. Terimakasih telah berbagi informasi tentang komunikasi ala face to face
ST3 Telkom

23 Juni 2016 12.39

makasih artikelnya yaa..
ST3 Telkom

23 Juni 2016 14.03

berkomunikasi lah dengan baik..


ST3 Telkom

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting