Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga

Hidup Membiara Siapa Takut?

Para Saudara-Saudara Dina Konventual
Menggali Makna Hidup Membiara

Persaudaraan
Setiap orang hidup menurut panggilannya. Panggilan biasaya dibedakan atas panggilan umum dan panggilan khusus. Salah satu jenis panggilan khusus itu ialah hidup religius. Melalui hidup religius kehidupan yang akan datang ditampilkan di dunia ini. Orang memilih untuk tidak menikah demi kerajaan Allah.
Inti setiap panggilan ialah menghayati kesatuan dengan Kristus. Kita dipanggil pertama-tama untuk mencapai keselamatan dalam kesatuan dengan Kristus. Di dalam Dia kelihatan bagaimana seharusnya kita menerima dan melaksanakan panggilan Allah. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4: 34). Dengan adanya hidup membiara manusia semakin disadarkan bahwa ada bentuk hidup lain di dunia ini, selain dari hidup berkeluarga.

Hidup membiara sangat identik dengan persaudaraan, karena di dalamnya beranggotakan manusia-manusia yang memiliki panggilan yang sama. Selain itu, harus disadari bahwa dalam kehidupan membiara memperlihatkan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang salaing membutuhkan satu dengan yang lain. kehidupan bersama tidak cukup didasarkan pada sifat sosial manusia tetapi berkembang suatu sikap saling memberi dan menerima. Hukum baru yang dirumuskan oleh Yesus menjadi hukum cinta (Yoh 13: 34) harus menjadi dasar persaudaraan dan kerja sama sejak awal kehidupan bersama. Persaudaraan yang dibangun bukanlah persaudaraan yang didasarkan pada hubungan darah, suku, kebudayaan melainkan pada kesatuan panggilan dan cita-cita. Kerja sama yang dituntut berdasarkan panggilan dan cita-cita, berdasarkan penghayatan hati dan budi.
Persaudaraan yang mendasar dalam hidup membiara sebenarnya mencontoh kehidupan jemaat perdana yang sangat jelas dilukiskan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul (Kisah Rasul 2: 41- 47, 4: 32- 37). Di sana dikatakan bahwa jemaat perdana hidup sehati dan sejiwa dan saling mengisi antara yang satu dengan yang lain. Mereka saling membantu, baik dalam pelayanan jasmani maupun rohani.
Dalam hidup jemaat perdana, kepemilikan merupakan milik bersama dan mereka selalu mengutumakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Dengan itu, mereka saling bahu membahu dalam mengatasi kesulitan dan ancaman saat itu dari penganut agama Yahudi dan penguasa Romawi.

Persaudaraan yang dilandasi kehidupan jemaat perdana itu juga masih ada sampai sekarang dan secara nyata dihadirkan dalam kehidupan membiara. Persaudaraan sejati tersebut berlandaskan pada kasih Kristus yang tanpa batas mengasihi kita umatnya.
Dalam mewujudkan persaudaraan sejati tentu tidak semudah mengatakannya. Banyak konflik yang dapat memicu retaknya bahkan kehancuran suatu persaudaraan sejati yang didasarkan pada Kristus. Sebagai contoh kita dapat melihat beberapa kasus di bawah ini:

  • Suster Ana dan Suster Marta sudah lama saling diam. Mereka tidak cocok satu dengan yang lain. Konflik di antara mereka terjadi karena suster Marta tidak suka dengan suster Ana yang selalu membawa anggota keluarganya ke dalam biara. Konflik ini membesar bahkan terbawa dalam kehidupan mereka sehari-hari. Konflik ini menjalar sampai pada hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sebagai contoh hanya karena telur asin saja mereka bertengkar satu sama lain. pertengkaran itu bukan hanya sebatas hanya saling mendiamkan, tetapi sudah sampai saling menghina budaya serta menceritakan kepada orang-orang di luar biara.
  • Romo Tono tidak cocok dengan Romo Koko. Mereka mempunyai perangai yang berbeda. Romo Tono seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara, tetapi sabar dan memikirkan kepentingan umat. Sedangkan Romo Koko adalah seorang yang keras dan meledak-ledak. Ia tidak segan-segan menegur temannya itu di depan umum apabila ditemui adanya kesalahan. Ia juga selalu memaksakan pendapatnya dan bahkan terkesan sedikir otoriter terhadap umat. Akibat semuanya itu, umat di paroki pun terbagi menjadi dua kelompok sebagai akibat dari konflik diantara mereka.


Berdasarkan kedua cerita tadi dapat kita lihat bahwa konflik kecil yang terjadi dapat memicu hal-hal yang tidak diharapkan sebelumnya. Konflik yang terjadi dalam kasus di atas dapat menjadikan hidup menjadi neraka dan tidak mengenak. Bahkan yang  dampak yang paling buruk adalah mereka dapat saling menjelekan antara satu dengan yang lain. Ini tentu saja dapat menghilangkan semangat persaudaraan yang seharusnya terjadi di antara mereka.
Kejadian semacam ini tentu saja terjadi pada kita, khususnya orang yang memilih untuk menjadi kaum religius dan terlebih lagi yang hidup di biara. Bisa saja dengan kejadian kecil sehari-hari, entah disengaja atau tidak, menanamkan benih konflik yang semakin hari semakin membesar dan siap untuk meledak.

Oleh karena itu, kita perlu mencari apa sebenarnya dasar dari hidup bersama, khususnya kita yang hidup dalam biara. Dasar hidup membiara adalah jelas bukan berdasarkan kesamaan hobi, suku dan sifat. Dasar yang dimaksud adalah panggilan Tuhan sendiri (Mrk 3: 19). Seperti para murid kita dipanggil untuk hidup bersama dengan Yesus serta diberi perutusan untuk mewartakan Kristus yang telah wafat dan bangkit untuk kita. Kita yang berbeda-beda (suku, sifat dan hobi) disatukan oleh Kristus dengan segala kekhasan, kelebihan dan kekurangan kita (Yoh 15: 1- 8).
Karena dasarnya adalah panggilan yang kita terima, maka hubungan antar pribadi menjadi dasar yang kuat dalam hidup membiara. Kita yang merupakan ranting-ranting dari pokok anggur, yaitu Kristus sendiri, harus saling tolong dan bahu membahu. Kesatuan kita ada dalam Yesus. Maka tanpa adanya kesatuan dengan Yesus, hidup doa kita akan menjadi kering. Padahal hidup doa sangat berperan dalam menjaga persaudaraan dalam komunitas.

Perlu ditegaskan kembali, kita hendaknya dapat meniru semangat hidup jemaat perdana. Mereka hidup penuh dengan persaudaraan dan saling berbagi pengalaman. Dalam hidup bersama itu mereka rela berbagi, baik dalam hidup jasmani dan spritual dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bergembira, walaupun kita tahu mereka hidup di masa sulit. Mereka tidak bebas untuk mengungkapkan iman mereka. Mereka selalu dibayang-bayangi oleh penolakan bangsa Yahudi dan pengejaran bangsa Romawi.
Hal-hal penting yang dapat kita petik dalam kehidupan jemaat perdana adalah:

  • Kerelaan untuk saling melayani, berkorban bagi yang lain.
  • Saling memperhatikan, mengembangkan, meneguhkan dan menghargai pribadi-pribadi sebagai manusia yang seutuhnya.
  • Kesatuan Tuhan secara pribadi, walau selalu dibayang-bayangi oleh rasa ketakutan.
  • Menghargai perbedaan di antara mereka dan rela hidup di dalam perbedaan. Mereka melihat bahwa perbedaan tidak memisahkan melainkan menyatukan.
  • Keterbukaan dan komunikasi yang harmonis di antara mereka.


Setelah kita melihat dasar hidup jemaat perdana yang harus dipegang, sekarang kita akan melihat apa penyebab konflik yang terjadi di antara kita.
Konflik dapat dibagi menjadi dua, yaitu konflik yang berasal dari dalam dan dari luar diri kita. Konflik yang berasal dari dalam diri kita biasanya menyangkut motivasi serta tujuan dari hidup kita. Konflik ini hanya dapat diselesaikan oleh diri kita sendiri. Seorang pribadi yang mengalami konflik dalam biasanya tidak disebabkan oleh singgungan dari luar pribadinya. Sedangkan konflik yang biasanya terjadi berasal dari luar diri pribadi.
Konflik yang berasal dari luar pribadi kita dapat dibedakan lagi menjadi konflik besar dan kecil. Konflik besar biasanya menyangkut hal-hal pokok dalam hidup bersama seperti visi, misi serta pilihan karya yang akan dilakukan. Untuk memecahkan persoalan ini perlu pegangan yang pasti berupa konstitusi dan keputusan dari kapitel provinsi dan umum.
Konflik kecil adalah konflik yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya hal-hal kecil dan sepele merupakan pemicu dari konflik ini. Hal-hal itu adalah kesengangan, kebiasaan, budaya yang berbeda, kebersihan dan sopan santun. Dalam konflik kecil pemecahannya memang harus dilakukan secara terbuka dan dibicarakan bersama sehingga dapat dihasilkan suatu kesepakatan yang tidak merugikan pihak-pihak yang terkait  di dalamnya. Pembicaraan ini harus dilandasi oleh itikat baik kedua belah pihak sehingga maksud awal yang ingin dicapai tidak menjadi rancu akibat dari kekerasan hari seseorang.
Oleh karena itu, kita dapat menempuh beberapa cara untuk memecahkan konflik yang terjadi pada kita, khususnya yang hidup dalam biara.

  • Perlunya pemecahan win-win
  • Pemecahan konflik yang ideal adalah win solution. Artinya kedua belah pihak harus menang, bukannya salah satu dikalahkan. Dengan model mengalahkan satu pihak, kita akan cenderung menempuh berbagai macam cara untuk mengalahkan pihak yang merupakan lawan kita. Apabila ini terjadi, maka akan terjadi persaingan yang tidak sehat. Dengan metode win-win pihak-pihak yang berkonflik akan senang dan tidak terjadi sakit hati di antara mereka.
  • Perlunya keterbukaan
  •  Konflik, apapun bentuknya, bila dipecahkan dengan adanya keterbukaan di antara kedua belah pihak akan mencapai suatu kata sepakat. Masalah yang terjadi akan semakin berkurang kadarnya dan semakin lama dapat selesai. Selain sikap keterbukaan, kita juga harus mengembangkan semangat rela untuk berkomunikasi. Memang terasa sulit pada awalnya, namun yakinlah bila kita memulai berkomunikasi, segala konflik yang ada dapat diselesaikan. Kerelaan untuk memulai komunikasi ini perlu dilatih terus menerus bahkan seumur hidup kita.
  • Pendalaman kasih dan pengampunan
  • Pendalaman aturan main tarekat terlebih tentang dan persaudaraan perlu sungguh-sungguh diperdalam. Semangat kasih inilah yang akan memudahkan penyatuan jika terjadi suatu konflik di antara kita. Semangat pengampunan juga perlu dikembangkan, sehingga apabila ada seorang anggota yang bersalah, ia tidak langsung disingkirkan. Anggota tersebut tetap mendapatkan tempat dan diterima dalam komunitas. Dengan demikian, konflik besar dapat dihindarkan. Sikap lain yang juga perlu adalah menerima orang lain dalam segala perbedaan yang dimilikinya. Di sini dituntut sikap belajar dan tenggang rasa dan menerima perbedaan itu sebagai kenyataan yang ada dalam hidup bersama.
  • Bahasa badan, isyarat, hati dan wajah.
  • Untuk dapat mengenal keadaan teman, kita perlu untuk mengembangkan bahasa non verbal yang kita miliki. Kita juga harus melihat dan mempelajari bahasa non verbal yang dimiliki oleh teman kita. Dengan demikian, kita dapat dengan cepat menangkap maksud dari teman kita. Kita tidak menjadi salah sangka atas prilaku dan gerakan yang dilakukan oleh teman kita.
  •  Persaudaraan dalam komunitas diwujudkan dalam
  • Kebersamaan yang tidak didasarkan pada darah dan daging, melainkan hidup yang dibangun dan dihayati bersama berdasarkan iman untuk mengembangkan panggilan dan cita-cita bersama. Jiwa dari komunitas adalah iman yang diwujudkan oleh saling percaya, mengharapkan dukungan peneguhan dan pengertian satu sama lain yang berdasarkan iman dan pengharapan akan yang lain. Sedangkan cinta yang diungkapkan dalam hidup sehari-hari lewat suka dan duka adalah cinta yang berasal dari cinta Kristus kepada kita sebagai saudara.
  • Keterlibatan yang berdasarkan kebebasan

Orang yang bebas memilih panggilannya dan bebas masuk biara namun kemudian juga mau bertanggung jawab atas pilihannya. Hal ini dapat diungkapkan dalam beberapa bentuk seperti:

  • Kehadiran bersama. Kehadiran bersama merupakan unsur yang mendasar dalam komunitas. Kehadiran tidak hanya sekedar dihayati dengan fisik (hadir dalam kegiatan-kegiatan komunitas) melainkan dihayati dengan jiwa dan hati. Kehadiran diri kita bersama dengan orang lain sekaligus juga membawa peneguhan dan keteduhan.
  • Komunitas setiap kali harus diciptakan kembali. Kita harus sadar bahwa komunitas ditentukan oleh orang yang ada di dalamnya, yang setiap waktu berganti; mereka membawa serta berbagai peran dan perangai yang berbeda-beda, membawa sumbangan yang beraneka ragam. Ada unsur positif maupun negatif yang berpadu membangun komunitas dengan membentuk pribadi-pribadi di dalamnya. Menciptakan komunitas dapat dimulai dengan membentuk lingkungan, rumah, dan halaman, taman, olah raga, dll. Yang lebih penting lagi berusaha melihat keunikan dan kekhasan dari tiap anggota komunitas. Ada yang pendiam, periang, penakut, bertipe cepat, bertipe lambat, ada yang giat, malas, ada yang serius, ada yang ramah. Dalam hal bakat ada yang berbakat di bidang musik, olah raga, intelektual, dll. Perbedaan-perbedaan seperti yang memungkinkan terjadinya keretakan. Maka kita perlu berupaya untuk saling mengerti dan memperbaiki bila ada yang retak.

Menangani konflik adalah suatu proses hidup yang membutuhkan waktu dan kadang tidak pernah berhenti sampai akhir hidup kita. Kadang suatu konflik dapat diselesaikan dalam satu hari, seminggu atau bahkan lebih dari sebulan. Kadang kita sudah mengusahakan yang terbaik tetapi harus disadari bahwa konflik baru dapat saja muncul sewaktu-waktu. Maka, diperlukan ketabahan, kesabaran dan juga kekuatan untuk tidak mudah putus asa dalam menyelesaikan konflik yang selalu muncul di antara kita.

Kerja
Setiap manusia merupakan makhluk sosial. Ia membutuhkan orang lain untuk berperan dalam kehidupannya. Selain itu, manusia juga merupakan makhluk yang bekerja. Dengan bekerja manusia dapat mewujudkan pribadinya dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap manusia tentu saja harus bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa bekerja, manusia mustahil untuk mempertahankan dirinya.
Dalam konteks kita yang hidup di biara, kerja juga menempati posisi yang penting. Kerja di dalam komunitas bukan berarti kita hanya bekerja untuk mengembangkan diri kita sendiri demi pemenuhan kehidupan kita. Kita harus dapat menggali makna yang lebih dalam akan kerja yang kita lakukan.
Berdasarkan cara hdup jemaat perdana, mereka bekerja bukan hanya untuk kebaikan diri kita sendiri melainkan demi kepentingan jemaat. Hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan adalah demi kepentingan bersama dan dinikmati secara bersama-sama pula.
Hidup berkomuniitas menuntut adanya kerelaan untuk memberi diri bagi orang lain. hal ini tampak dalam pekerjaan yang kita lakukan. Setiap anggota komunitas harus dapat saling memberi diri sepenuhnya dalam pekerjaan, bahkan pada hal yang sangat sepele. Apabila semua anggota komunitas saling memberi diri satu sama lain dalam pekerjaan, entah ringan atau berat, segala beban akan terasa ringan dan membahagiakan.

Untuk semakin menghayati makna kerja dalam satu komunitas, terlebih di dalam biara, kita akan melihat contoh di bawah ini:

  • Suster Anas telah lama hidup dalam komunitas susteran. Ia hidup bersama dengan 5 orang teman sepanggilan dalam komunitas tersebut. Awalnya suster ini semangat dalam bekerja dan bahkan ia terkenal sebagai salah seorang anggota komunitas yang paling rajin. Setiap hari ia melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Segala pekerjaannya dilakukan sampai berakhir. Namun suatu ketika ia melihat bahwa pekerjaan yang dilakukannya sia-sia belaka. Ia merasa tidak berkembang karena setiap hari selalu melakukan tugas yang sama, yaitu memasak. Ia melihat bahwa keinginan awalnya menjadi suster adalah ingin mengabdikan diri bagi orang-orang yang tersisih dan terlantar. Ia menganggap bahwa sia-sia selama ini ia bekerja. Ia melihat bahwa dirinya akan sama saja jika ia menjadi juru masak saja. Ia akan memiliki banyak uang dan akan dikagumi oleh banyak orang. Setelah kejadian itu, suster Anas mulai malas bekerja. Dalam bekerja, ia setengah hati dan sering masakannya menjadi keasinan atau banyak hangus.
  • Berdasarkan cerita ini, kita dapat melihat bahwa suster Anas tidak dapat melihat nilai terdalam dari kerja. Ia merasa terbebani dengan tugasnya. Ia tidak mau memberikan dirinya kepada orang lain melalui pekerjaan yang dilakukannya.
  • Bekerja sama yang dipupuk dalam suatu biara bukanlah kerja sama yang ada dalam suatu perusahaan dan juga bukan bekerja sama antara keluarga. Ikatan yang ada bukannya ikatan perusahaan, sebab ikatan kerja dalam perusahaan akan dihentikan apabila seseorang  tidak mampu untuk memenuhi tuntutan dari perusahaan. Dan harus dilihat juga bahwa ikatan kerja dalam biara tidak didasarkan atas ikatan darah daging. Ikatan yang mendasari kerja dalam komunitas adalah ikatan panggilan. Bagaimana kita sebagai sesama orang yang terpanggil secara khusus dapat memberikan diri sepenuhnya demi perkembangan panggilan kita.
  • Kristus serta Injilnya menjadi dasar, pedoman dan cermin hidup. Dalam ikatan bersama dengan Kristus terdapat jalinan kehangatan dalam persaudaraan atau semangat pengabdian. Apabila kita bekerja sama dalam ikatan daging, kelompok-kelompok kecil akan tercipta dan semakin memudarkan semangat persaudaraan di antara kita. Pengelompokan ini mematikan semangat dasar kerohanian, karena kehidupan kita dikotak-kotakan di luar dasar kasih yang diamanatkan oleh Kristus. Kehangatan dan kegembiraan tidak akan ada dalam kelompok ini.
  • Kerja sama yang didasarkan atas panggilan dan persaudaraan dilandasi oleh semangat dan watak yang dewasa, sehingga antar anggota dapat saling menghargai dan menerima antara satu dengan yang lain dengan tanpa melihat budaya dan watak seseorang. Watak yang dewasa selalu menolong dan memajukan kepribadian seseorang. Orang menjadi berani untuk saling memberikan saran dan teguran demi perkembangan bersama. 


Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2017. Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting